Thursday, October 15, 2020

Sate Ayam 🍢

Jakarta,

Kamis, 15 Oktober 2020


Siang hari ini tadi aku berencana ada kunjungan ke gedung Sinarmas Land di Thamrin untuk ambil dokumen BAST barang.

Setelah dari pasar Jatinegara untuk membeli 3 pcs kaos polos. Biru muda, biru tua dan hitam. Aku berencana makan siang di daerah Kebon Sirih dekat Jl. Sabang, yaitu Jl. H. Agus Salim. Selama di perjalanan aku terbesit untuk makan sate ayam.

Lewatlah aku ke sana.. sepanjang Jl. H. Agus Salim, di awal belokan aku melihat ada penjual sate ayam, di sebelah kanan jalan. Kemudian karena aku masih ingin lihat-lihat, aku terus melaju. Lho, ada yang jual sate ayam juga di sebelah kiri jalan. Dan cukup rame orang. Aku perhatikan tempat sate ayam pertama kali tadi yang aku lihat sepi tidak ada pembeli. Dan yang jual sudah sepuh. Bapak-bapak & ibu-ibu sudah cukup tua.

Aku akhirnya muter, kembali ke jalanan tadi untuk makan di penjual sate yang pertama aku lihat. Oke lah, mumpung sepi. Karena aku agak males makan di sate kedua yang cukup rame. Lagipula juga panas lho.. di pinggir jalan. Siang-siang pula, jam 12-an.


Thesss! Aku parkir. Aku pesen sate ayam pakai lontong aku bilang ke ibunya. Dan bapaknya menawarkan aku minuman, mau s-tee atau teh botol..? Aku mikir sejenak menentukan pilihanku. "Teh botol aja pak." Sembari menunggu pesanan sateku datang, aku buka HP & ngecek ada chat masuk apa dari siapa saja nih. Oh, ada meeting tim jam 13.15 ini nanti. Jelas-jelas aku sepertinya tidak bisa hadir karena aku mau ambil dokumen dulu ke SML Lt. 21 setelah jam makan siang selesai. Jam 13 lebih dikit lah aku ntar ke sono..


Jeng-jengggg! Sate ayamku siap. Aku makan suapan pertama.. Glek.

"What the..."

RASANYA RUSAK GUYS...!

Ayamnya sepertinya sudah basi & tidak enak rasanya. Anehhhh... Suapan kedua aku paksakan sambil mengunyah pelan-pelan & berpikir.. Duh kok begini..

Aku tanpa melihat langsung tapi memperhatikan kedua orang tua ini. Si bapak cuma duduk diam, sudah sangat renta fisiknya. Aku melihatnya cukup iba. Ibunya, duh.. tadi ada orang lewat yang mau beli sate kambing tapi nawar harga 30k. Si ibu bilang "Harga 30k mana dapet sate kambing," sambil menggerutu. Aku tidak melihat siapa orang yang lewat tadi. Kenapa harus nawar ya? Mau makan satenya mah, ya tinggal beli aja tanpa nanya harga kalau emang niat. Aku sambil mengunyah makanan aneh ini di dalam mulutku, aku kunyah perlahan dan masih berpikir...

Si ibu sampai menawari beberapa orang pejalan kaki yang lewat, "Ada sate ayam, sate kambing, masih banyak..."

BARU KALI INI aku makan sambil lihat dan menyaksikan sendiri ada penjual makanan gerobak yang menawarkan produk makanannya ke orang pejalan kaki yang lewat. Aku masih sambil mata menatap fokus ke HP. Tapi telingaku tetap mengobservasi.. Si ibu masih menggerutu dengan nada yang ketika aku baca, ibu ini agak kurang baik.

Dalam benakku, "Apakah sate ini tidak laku, dan tidak enak, sampai mungkin tak seorangpun yang berkenan makan di sini kecuali aku?!"

Dan apakah sate yang rusak ini adalah sate yang tidak laku kemarin hingga sekarang masih dijual, hingga aku istilahnya menjadi korban...? Apakah benar begitu? Sepertinya iya. Pasti orang yang pernah makan sate bapak & ibu ini sudah kapok beli, karena jujur rasanya tidak enak. Rasa dagingnya sudah rusak. Termakan waktu.


Suapan ketiga, aku menyendok kecil sepotong sate & lontong..

Hingga aku putuskan untuk "stop it". Daripada aku sakit nantinya.

"Buk, tolong bungkus dong."

Ibunya menjawab, "Kok dibungkus dek?".

Loh... Aku selama ini belum pernah dapat pertanyaan kenapa dibungkus dari penjualnya. Harusnya ya anda bodo amat saja tidak peduli, mau saya bungkus kek, saya habiskan di tempat kek, gak saya lanjutkan makannya kek, dll. Bebas dong. Tapi kok, aku mendapatkan sebuah pertanyaan yang sedikit kepo dari si ibu.

Oh. Berarti memang ada yang aneh. Dagangan bapak dan ibu ini sepi. Tidak laku. Hingga mungkin merasa, "Kok ni anak makan gak habis, trus minta dibungkus, ada apa yaa..?" "Apakah tidak enak satenya atau apa..." Mungkin..

Aku jawab, "Saya ada meeting buk."

Padahal mah bener, timku akan ada meeting. Tapi juga aku tidak bisa hadir dalam meeting ya karena hanya tidak ingin menghabiskan sate ayam ini saja.. Entah lah sepertinya sate ayamnya akan aku buang saja. 🥺

Daripada menjadi karsinogen dalam tubuhku.. kan bahaya. Mana mahal pula harganya setelah aku nanya si ibu. 35k termasuk teh botol. Mahal. Tapi gak enak.

Kasihan... Dalam hatiku, "Ya udah lah, gpp harga segitu, buat rejeki si bapak & ibu ini."

Kemudian aku cabut dalam keadaan masih lapar. Akhirnya aku ke arah belakang SML. Ada deretan kios tempat makan di Jl. Irian. Motor kuparkir di situ. Aku makan bubur kacang ijo saja...

Mau makan berat sudah agak terisi oleh sebotol teh botol. 😂


Aku masih memikirkan sate ayam tadi. Hingga jam istirahat selesai. Aku lekas jalan kaki ke SML. Mengambil dokumen BAST dari pihak Sinarmas. Lalu misiku hari ini beres. Aku pulang. Jalan kaki ke parkiran motor di Jl. Irian.

Masih sambil memikirkan sate ayam tadi.


Aku otw menuju kantor, di Sunter. Aku melewati Jl. H. Agus Salim lagi untuk yang ketiga kalinya pada hari itu di jam yang tidak terpaut jauh. Sate ayam bapak & ibu tadi, sama sekali tidak ada lagi pembeli. Aku masih memikirkan sate ayam tadi. Sepanjang Jl. H. Agus Salim, AIR MATAKU MENGALIRRRR....

Sepanjang jalan Kebon Sirih, depan stasiun Gambir hingga arah Kemayoran air mataku masih mengalir.

Sungguh aku merasa kasihan dengan bapak & ibu penjual sate ayam tadi.

Aku mungkin saat itu belum berani bicara bahwa, "Buk, maaf satenya rasanya aneh. Kayaknya agak rusak deh buk."

Maaf. Aku belum bisa menyatakannya tapi biarkan aku menggetarkan si bapak & ibu tadi lewat doaku saja. 😭🥺

Pak, buk. Please. Jangan menyerah dengan kehidupan. Setiap manusia hidup, pasti punya karmanya masing-masing. Jika hidup kalian tidak berjalan seperti yang kalian inginkan, INTROSPEKSI diri ya pak buk! 🙏🏽 Mungkin akan ada saatnya dagangan sate kalian ada perubahan jika bapak & ibu juga mau berubah menjadi yang lebih baik. Maaf kalau sok tau tentang si ibu. Aku melihat tipe si ibu adalah orang yang suka ngedumel di belakang, mungkin suka menjelekkan atau menjatuhkan nama orang lain di belakang, suka nyinyir dan semacamnya. Semoga ada keajaiban, mukjizat, hidayah atau karunia agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik. 🙏🏽

Dan semoga bisa bahagia menjalani sulitnya kehidupan. Inilah kehidupan kita sebagai manusia. Keep fighting and be happy!


「Orang yang bahagia adalah orang yang bisa bersyukur dan menikmati hidup.」

Sekilas kalimat itu terucap oleh pikiranku.

Sambil melewati Underpass Angkasa, jika doaku berhasil menggetarkan bapak & ibu tadi. Kemudian jika mereka bisa bahagia, aku seketika berpikir bagaimana jika kebahagiaan atau pencapaian hidup yang kita dapatkan saat ini adalah karena doa baik untuk kita dari orang lain yang kita sendiri tidak tau siapa yang mendoakan kita? Bisa jadi. Terima kasih untuk orang-orang yang pernah mendoakan aku. Untuk doa-doa yang baik yang sudah dipanjatkan untuk diriku. Dan terima kasih juga, untuk orang-orang yang pernah atau masih membenciku yang juga mungkin pernah mendoakan jahat atau buruk untuk diriku. Terima kasih.. 🙇🏻‍♂️


Terima kasih, jika aku tidak kepikiran tercetus spontan untuk makan di daerah jalan Sabang & ingin makan sate ayam, mungkin tidak akan merasakan blessed feelings seperti hari ini tadi. Mungkin apa yang aku pikirkan dan tuliskan agak melenceng arahnya, tapi itulah sudut pandang yang aku dapat tentang kejadian siang tadi.

:')

No comments:

Post a Comment